Rabu, 09 September 2015

FIRMAN TUHAN HARI INI RABU 9 SEPTEMBER 2015 HABAKUK 3:17-19, MAZMUR 18:3


   BERJEJAK DI ATAS BUKIT BATU

RHEMA APA YANG SAUDARA DAPAT DARI BACAAN DI ATAS:
1. ...................................................................................................
2. ..................................................................................................
Pengajaran:




Dapat bertahan di tengah kesulitan, masih bisa tersenyum ketika harapan sirna atau
masih bisa bersyukur ketika sesuatu yang buruk datang menerpa, merupakan suatu
sikap yang sangat langka dan sulit untuk dijumpai. Sejak awal tahun sampai
pertengahan tahun ini, kita mendapati kenyataan mengenai meningkatnya tindakan
bunuh diri. Bunuh diri seolah-olah menjadi alternatif yang banyak diminati oleh
banyak orang untuk bisa keluar dari masalah. Dan yang lebih menyedihkan lagi,
peminatnya datang dari semua segmen usia. Berkaitan dengan kesulitan yang
dihadapi dalam hidup ini, nabi Habakuk juga mengalami masa-masa sulit dan sangat
berat. Namun dia masih bisa bersorak sorai, bersukacita tanpa ada niatan untuk
bunuh diri. Habakuk memberikan anak kunci kepada kita untuk dapat bertahan di
tengah kesulitan tanpa mengalami penurunan, namun kekuatannya justru menjadi
naik. Berjejak diatas bukit batu merupakan kunci kekuatan Habakuk. Suatu
kemampuan untuk tetap berdiri kokoh dan tidak jatuh tergeletak
saat badai datang, sementara semua orang berjatuhan. Ini adalah
kemampuan yang datang dari bukit batu, yaitu Tuhan Yesus. Banyak orang
berjejak pada bukit yang lain; seperti bukit uang atau kekayaan, bukit kekuatan
manusia, bukit posisi dsb. Begitu badai kehidupan datang, bukit tempat mereka
berpijak hancur dan mereka berjatuhan. Ada yang menjadi gila, ada yang menjadi
sakit, ada yang meninggal bahkan ada yang menyangkal Yesus. Daya tahan kita
menghadapi kesulitan sangat ditentukan oleh hubungan kita dengan Yesus.
Kedalaman hubungan kita dengan Tuhan akan membuat kaki kita kuat berjejak pada
bukit batu sehingga kita tidak goyah sedikitpun dalam menghadapi kesulitan.
Sebelum kesulitan datang, periksa terlebih dahulu hubungan kita dengan Tuhan.
Masihkah intim? Ingat! Ketika kesulitan datang, adalah saat yang terbaik untuk
bersukacita, memuji dan menyembah Dia. Periksa ulang, dibukit mana kaki kita
berjejak, karena akan menentukan kita terjatuh (rebah) atau tetap tegak berdiri.
Dapatkah kita tertawa di tengah kesesakan? Ya! Karena Tuhan yang
memungkinkannya. Dapatkah kita tersenyum lewat tetesan air mata? Ya! Karena
Tuhan yang memampukannya. Itulah kebahagiaan sejati, dan kebahagiaan sejati
hanya ada di dalam Yesus Kristus Tuhan

0 komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More